Suatu masa kupernah mendekap seorang kekasih yang hadir hanya ditiap malamku saja. Indah cinta didalam gelap membutakan hasratku untuk mencumbunya dalam gelas asmara yang mendidih bak air bergejolak hendak berontak dari atas api yang panas.
Kutemukan dirinya sedang terduduk dalam diam, merenung dalam sunyi, mengambang bak awan hitam yang sedang bergerak membawa beban berat ke negeri antah berantah.
Begitulah awal Kutemukan kekasih malamku, sedang sendiri dalam rona kehampaan.
Kekasih malamku tak mampu ku jangkau hatimu karena kerasnya bumi mengubur mimpiku. Walau begitu yang kutahu, kuhanya cinta, rindu dan dendam pada dirimu.
Kekasih malamku yang terdiam dalam asa, sungguh kusesal diri ini yang tak mampu menghapus rona hitam diwajahmu. Walau kutahu kau tak mengharapku lakukan itu.
Kekasih malamku maafkan aku dengan seribu dosaku padamu, kita hanya mampu bertemu seperti ini, disaat malam telah turun menutup hasrat kau dan aku dalam kegelapan semu yang membeku.
Seandai pagi membangunkanmu dalam lamunan malammu, kurela melepas sehelai napas jiwaku karena engkau layak tuk mencinta dan dicinta….. oh tapi n’tah mengapa mereka selalu menghinamu dalam rajam-rajam kata yang tak mampu ku ungkapkan melalui suara.
Suatu kala pernah kubertanya padamu duhai kekasih malamku, apakah engkau kecewa dengan pertemuan kita yang hanya dipenghujung waktu, ataukah kau tak rela berpisah denganku, karena kusanggup membuat hatimu bersinar kembali seperti cahaya mentari yang bersinar lembut dipagi hari.
Seabad rasa kurajut bersamamu menembus batas waktu dan mimpi, hampir malam tak berujung engkau selalu menanti kehadiranku dalam kelam kau lalu hanya untuk menyapaku, maaf ku tak sanggup lagi bersayup sepi tanpa kabar pada dunia bahwa engkau kekasihku.
Namun yang kutahu engkau tak mendengar … engkau hanya berlari karna rasa takut akan murkanya kekasih jahanam yang kerap melukaimu dengan bengis. Duhai kekasih malamku berlarilah engkau sepuasmu ku siap menunggumu lagi disini esok malam turun menutup.
Sungguh resah hati menunggu kehadiranmu yang tak kunjung tiba ditempat biasa kita memadu janji, gundah tak mampu ku kekang. Tak kusadar jiwa ini menuntunku menyusur langkah yang biasa engkau lalui kekasih malamku.
Oh…..tidak!!! jiwaku seakan hendak keluar mengejar nyawamu ke angkasa, disana tubuhmu tergolek, lemah, bisu, bak patung lilin merah yang melepuh.
Kekasih malam yang kucinta dengan segenap rasa berakhir tragis, meninggalkan perih hati yang teramat dalam lebih dalam dari kekasih penariku dulu, dia direnggut maut saat malam menutup mata diterjang kuda besi yang tak berhati.
cukup dulu untuk kekasih malamku, ku kirim hasrat dan doa bagimu bahagia disana, amin.
gambar seperti biasa dari uncle google.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar