Selasa, 26 Oktober 2010

Hatiku, Hati si Anak Laut

Awan tak henti melaksanakan tugasnya membagi-bagi air disini ditanahku ini… huh, udara lembab dan dingin. Aku teringat kenangan pulang kampung beberapa bulan lalu, Kampung halaman yang telah cukup lama kutinggal dengan kenangan yang indah, kampung masa kecilku.

Saat malam yang lembab seperti saat ini, kebiasaanku saat kecil dulu saat di Kampung adalah berkumpul ditepi laut menikmati angin laut yang berderu dengan kencang sambil bermain-main dengan teman sebaya yang semuanya masih ada hubungan family. Itu saat-saat yang sangat menggembirakan ketika semua masih dapat tertawa indah dan hanya tertawa bersama dan duduk bermain memandang bulan dan bintang-bintang ditepi laut yang indah memantulkan cahaya benda angkasa diatas sana serta menyaksikan lampu-lampu kapal nelayan yang segera berlayar dimalam hari.

Kalaulah hendak kucurahkan dengan kata-kata tiada dapat kulukiskan keindahan kampung halamanku ini, betapa sempurnanya sebagai sebuah tempat dibanding tanah kuberpijak saat ini namun bagiku dimanapun kuberpijak disitulah kampung halamanku. Nun jauh disana ditengah pulau yang tak lebih besar dari pulau Batam di Sumatera dihimpit diantara selat Makasar dan pulau besar Kalimantan, berdirilah sebuah gunung yang dipuncaknya selalu berawan, itulah Gunung Sebatung, Gunung Bamega, Gunung Impian dialam nyataku dulu…. ya sejak dulu semasa kecil yang telah kutitipkan pada bumiku disana tuk menjaganya hingga hari ini masih tegak dengan cantik dan awannya.

Gunung Bamega merupakan berkah bagi pulau kecil kami, yang memisah diri dari pulau induknya di Kalimantan, karena dia-lah tanah kampungku menjadi indah dan lengkap keindahan alamnya, dari pantai berpasir putih bak berlian, air terjun yang tak hentinya mengalirkan air kehidupan, hutan indah yang sangat luas dan cahaya biru sang laut yang sangat luas, yang siap dan rela untuk kami peluk dengan erat dalam rasa cinta yang dalam.

Ingatku, ketika masa itu setiap pulang dari sekolah yang terletak diatas anak bukit pusat kota, kegiatan yang biasa kulakukan adalah mengambil alat pancingku, lalu kumelangkah menuju ke pelabuhan panjang yang jaraknya tak jauh dari rumahku yang kulalui dengan berjalan kaki. Memancing adalah hobby kecilku yang sangat menyenangkan bagaimana kudapat melihat ikan-ikan berenang indah dibawah jembatan, ya pemandangan yang sukar kujumpa saat ini. Air laut yang bening beriak indah menuju surut ketika siang. Seperti biasanya tak pernah kutak dapat ikan setiap kail rampang yang kumasukan ke air selalu saja berhasil mengait ikan di kailnya yang tajam dan kuat. Biasanya ikan yang kudapat ikan baronang dan ikan kipar yang banyak terdapat dibawah jembatan… ikan ini merupakan kesenanganku untuk kumasak saat makan malam. Memang kebiasaanku yang satu ini tidaklah wajar karena mama dirumah pasti udah memasak ikan juga, tapi dasar anak laut hati kami tak akan jauh dari laut.

Saat telah puas memancing dengan rampang biasanya kuberalih memancing kepiting tepat dibawah jembatan pelabuhan panjang. Memancing kepiting dan menikmati daging kepiting hasil tangkapan sendiri sungguh terasa lebih lezat , dan saat ini menjadi suatu yang kurindu jauh dilubuk hati. Sangat mudah tuk menangkap barang 10 ekor kepiting saat itu, modalku cuma berupa beberapa ketuyung atau keong laut yang banyak kudapat ditepi laut saat surut air hingga ke dasar. Hups… benang nilon disudut sana mengencang, wah ini kepiting yang besar. Kuambil serok jala yang kubawa dalam tas bekas sekolah yang telah butut, pelan-pelan ku ciduk dari bawah tubuh sang kepiting yang tak sadar menikmati umpan daging keong yang segar, yap dapat… senang rasanya. Senang rasanya malam ini minta mama buatkan bumbu…..

Hati anak laut ini tak lepas mengingat itu saat air telah naik pasang hingga menutup kaki-kaki jembatan yang panjang, aku pun beringsut pulang. Mama pasti akan marah padaku karena aku anak laut yang liar hanya menikmati hidupku saja.

Selain memancing, kuingat sewaktu kecil dulu disiang hari saat air pasang telah naik maka lorong-lorong gang di kampungku yang masih berupa jembatan kayu ulin akan terendam tinggi untuk menarik semua yang disisi dalam kampung ke laut yang luas.

Saat itulah, disaat air telah pasang maka aku dan teman-teman biasa berenang melalui jembatan setapak setiap gang beberapa kelurahan di Kotaku, menuju batas laut dan jaraknya cukup jauh bisa berkilo meter dari rumah, namun karena arus air laut yang kami tunggangi mengalir sesuai kodratnya jarak itu hanyalah sebentar membawa kami ke laut. Wahai riak halus gelombang laut yang telah membawa kami ke batas laut tak akan pernah kulupakan jasamu itu. Setelah sampai di batas laut kami naik kesisi atas jembatan panjang dan mencari kapal-kapal datang dari Sulawesi yang merapat di Pelabuhan panjang.

Inilah saatnya anak-anak laut sepertiku beraksi menaiki kapal tertinggi melompat dengan senang masuk kedalam pelukan laut yang hangat disiang hari buta. Ya siang hari buta saat sang matahari sanggup membakar kulit kami, tapi tak kurasakan. Rambut kami jadi agak merah karena hampir setiap hari meloncat memeluk laut, sungguh indah masa itu… inilah hati si anak laut.

Hatiku hati si Anak Laut, kami keras bersahabat dengan mentari hingga membakar kulit kami

Hatiku hati si Anak Laut, kami tangguh bagaikan cumi yang melenggok tak kenal takut akan hiu

Hatiku hati si Anak Laut, kami cinta laut kami , kami cinta ikan-ikan kami, kami cinta kepiting-keping kami, kami haus menikmati air laut yang asin karena darah kami bercampur dengan garam-garam murni sang laut.

Hatiku hati si Anak Laut, badai dan gegap petir bukanlah halangan bagi kami menikmati angin laut dimalam hari yang menampar setiap sisi wajah kami……………………………. Hatiku hati si Anak Laut.

Cukup dulu untuk kisah kecil si Anak laut yang kini telah lama tak kelautku lagi, tak seperti masa dulu saat laut dapat selalu dicumbu dengan mesranya, saat angin laut dapat membelai dengan halusnya, saat mentari mampu memerahkan rambut dan menghitamkan kulit kami.

Tulisan ini ku dedikasikan untuk rinduku akan Laut dan Gunung Bamega yang kutinggal dalam cinta di Kampung indahku nun jauh disana.

sebagian gambar dari uncle google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar