Rabu, 24 Agustus 2011

Mudik, Penting Nggak Sih ?

Busyet, sebagai kuli memang bekerja adalah kewajiban dan karya atas jasa yang kita tukarkan dengan lembar-lembar rupiah. Saat-saat mendekati Lebaran, adalah merupakan waktu krusial dimana seseorang yang bekerja mengalami distorsi konsentrasi secara massal, karena walau pun raganya ditempat kerja tapi pikiran dan hatinya telah jauh sampai ke kampung halaman, inilah saat-saat psikologis yang terasa ketika mendekati masa-masa Mudik Lebaran.

1314121356922691344

Balik kejudul artikel ini “Mudik Penting Nggak Sih?”, sebelum lebih jauh coba renungkan dulu hakikat mudik berikut ini :

Mudik boleh dikatakan adalah perjalanan napak tilas kembali ke masa lalu dari seseorang yang saat ini tidak berdomisili lagi di Kampung halaman atau tanah kelahirannya. Istilah mudik identik dengan hari raya idul fitri, bahkan sebagian lagi menganggap mudik adalah ritual tahunan, ketika sang anak datang menjenguk ayah dan bunda yang terkasih, saling merangkul dan mencium lembut tangan beliau sebagai tanda kerinduan sang anak juga tanda kasih sayang orang tua yang senantiasa bahagia tiada tara ketika berlinang air mata bahagia menyaksikan buah hatinya pulang kepangkuan, singkatnya silakan kunjungi lapak sejuk mbak Arimbi : Mudik, Perjalanan Spiritual Kembali ke Akar

131412439728115063

Setelah itu coba perhatikan beberapa kondisi berikut ini :

#1.Tejo, mengajukan permohonan cutinya seperti setiap tahun yang dilakukannya. HF bertanya : “Jo, kapan kamu ambil kredit motor biar cepet dan nggak ribet kalo ngantor ?”. HF menanyakan hal itu karena si Tejo nggak juga ambil kreditan motor karena alasannya nggak ada uang muka…. nah lho?

#2.Amalludin, mengajukan permohonan cuti untuk lebaran tahun ini alasannya mudik. HF bertanya : “Bro, kapan ente ambil KPR BTN….. cepetan yah, ntar ta bantu cariin subsidi?”. HF menanyakan hal itu karena bertahun-tahun kerja si Amal masih saja betah pindah kontrakan, nah lho?

1314121440902664275

#3.Kolis, mengajukan permohonan cuti lebaran untuk mudik juga. HF bertanya : “Lis, kapan ente lamar si Susan, ntar kelamaan tuh anak bakal diembat tetangga bro?”. HF menanyakan hal itu karena pacaran udah 7 tahun, alasannya belum siap nggak ada uang, nah lho?

#4.Andee, mengajukan permohonan cuti lebaran, karena udah 5 tahun nggak pulang kampung, sekalian minta blangko pinjaman uang untuk sewa/carter mobil mewah sebagai akomodasi bawa ke kampung (sekaligus untuk pamer waaaaaaaa). HF Cuma bisa geleng-geleng kepala atas dan bawah.

#5.Elang, mengajukan permohonan cuti mudik ke kampung karena sudah setahun ini nggak pulang kampung. HF bertanya : “emang kampung ente sudah pindah ya bro?”. HF menanyakan hal itu karena kampung halaman si Elang cuma perjalanan 4 Jam doang dari domisilinya sekarang, dan HF cuma bisa ngelus-ngelus paha sambil membayangkan di elus si Susi sekretaris big boss.

Karena mereka semua sahabat yang baik, tanpa menunggu ijin dari kepala bagian masing-masing HF langsung approved semua permohonan cuti diatas, namun ada beberapa hal yang pada akhirnya membuat FK, berasumsi tentang Pentingkah Mudik? Apa untungnya dan apa ruginya jika melihat contoh-contoh diatas serta hal apa yang mesti dicermati.

Bagi FK melihat alasan rekan-rekan HF diatas, serta latar belakangnya tentu saja perspektif mudik menjadi tidak penting, bahkan FK mengibaratkan mudik sama saja dengan Candu.

Tentu kita sangat familiar dengan kata Candu, sebagai perokok candu adalah ketika keinginan merasakan sensasi semu bersama hembusan asap, bagi para pengguna narkotik candu jauh lebih hebat sensasinya, bagi para petualang seksual candu ketika hasrat seks telah tersalurkan, singkatnya kata “candu” kerap kali lebih berkesan negatif daripada positif, karena pengulangan-pengulangan sensasi yang dirasakan lebih mengarah kepada Pemuasan.

Nah lho, kenapa kata candu yang digunakan pada suatu kegiatan temporer yang bersifat positif seperti mudik? Ini nih asumsinya :

13141218041050219845

~ Faktanya Superman juga BMI lho ~

#1.Kasus si Tejo dan Amalludin adalah contoh paling ringan ketika budaya mudik ini tanpa disadari “seakan-akan” menjadi suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh mereka, walaupun pada kenyataannya di tempat perantauan kehidupan mereka belumlah settle banget, dan semestinya dana mudik yang telah dikumpulkan selama setahun lamanya tersebut lebih baik jika dialokasikan untuk menunjang kebutuhan-kebutuhan yang lebih fundamental diperantauan agar jauh lebih baik, mandiri dan berdikari serta bernilai investasi, daripada memaksakan mudik setiap tahun, tapi kehidupan sebenarnya di perantauan jauh dari yang diharapkan.

Lalu bagaimana dengan yang menjadi TKI dan TKW diluar negeri, tentunya mereka tidak berpikir untuk investasi terlalu dalam diperantauan karena memang sebagai buruh migran banyak keterbatasan tentunya untuk memiliki harta tetap. Lalu apakah dengan demikian para BMI sebaiknya mudik setiap tahun? Ah, alangkah eloknya mudik tidak dilakukan setiap tahun oleh para BMI, karena biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan mudik ke tanah air tidaklah sedikit, bahkan ada yang sampai puluhan juta. Seandainya sahabat BMI re-planning mudiknya satu kali untuk beberapa tahun, bayangkan berapa banyak uang yang bisa dikirimkan kekampung halaman, 50% saja dari angka 40 juta rasanya akan membuat keluarga dikampung semakin semarak dalam menjalani lebarannya dan bayangkan penghematan 50% lagi untuk ditabungkan kedalam rekening mereka sebagai saving investasi baginya kelak.

#2.Kasus Andee dan Maskolis, adalah contoh pilihan bagian mana yang harus dipamerkan ketika kita mudik. Adalah hal yang biasa pada saat ini masyarakat kita mengukur keberhasilan serta kesuksesan seseorang dengan ukuran-ukuran materi. Pengakukan terhadap keberhasilan materi inilah yang menyebabkan si Andee bersikeras menyewa mobil mewah walaupun harus mengajukan hutang dikantornya, agar ketika mudik secara kejiwaan Andee merasa dihargai oleh orang tua dan kampung halamannya dan hal ini lumrah kita temui disaat-saat mudik lebaran yang kerap kali menjadi ajang pamer dadakan dengan Pameo “biar tekor asal kesohor”.

1314121916983304535

Lain kasus dengan Maskolis, semestinya dia menunda mudiknya dan segera mengumpulkan uang untuk melamar si Susan. Nah ketika dia telah menikahi si Susan di Perantauan, lalu mengajak Susan pulang kekampung-halaman pada kesempatan mudik pertama mereka, sesungguhnya hal ini adalah sesuatu yang pantas dipamerkan karena Maskolis telah memberikan sinyal pada kampung halamannya bahwa setidaknya dia Sukses Laku dan Sukses memasuki tahap awal kemandirian.

#3.Kasus Elang, adalah contoh salah kaprah budaya mudik, karena kadang kala budaya ini membuat kita menunda / melupakan proses silahturahmi pada keluarga sepanjang tahun berjalan, padahal jarak antara kota tempat perantauan dengan kampung halaman yang hanya 4 jam perjalanan darat, mestinya si Elang sepanjang tahun dapat bersilaturahmi lebih dari satu kali ke orang tuanya, tanpa harus menunggu mudik lebaran.

Namun demikian, asumsi diatas hanyalah asumsi-asumsi, karena pada akhirnya Penting atau tidaknya mudik, akan berakhir pada kata Candu serta Sensasi yang dirasakannya, sebab kadangkala kepuasan bathin tidak dapat untuk diukur dengan materi, sama hal-nya ketika seorang Perokok ditanyakan apa gunanya merokok? Buang-buang uang dan dapat merugikan kesehatan, begitupun dengan Mudik walaupun buang-buang uang dan sumberdaya lainnya bahkan waktu, tenaga, pikiran juga resiko diperjalanan…………. Budaya ini tetap saja dijalankan dengan penuh suka cita.

Bagi yang mudik, selamat mudik saudaraku dan hati-hati di jalan semoga selamat sampai ditujuan dan berbahagia bersama keluarga.

13141220921812099639

Sedangkan bagi yang tidak mudik semoga dilebaran-lebaran mendatang dapat merangkul orang tua dan keluarga terkasih, namun jangan berkecil hati dan tetaplah semangat, karena walaupun tidak mudik, hal tersebut tidak mengecilkan makna hakiki silahturahmi lebaran yang fitri. Dan yakinlah walaupun hanya berkomunikasi via video call 3G atau hand phone butut sekalipun pada orang tua dan sanak famili, tetap saja makna kebahagiaan itu tetap terasa, ketika mereka tahu bahwa kita baik-baik saja diperantauan.

Akhirnya : jangan lupa silahturahmi ke tetangga, kadangkala hal penting ini terlupakan, padahal sejatinya tetangga adalah keluarga terdekat kita…. Apalagi ke Pak Ketua eRTe seperti Amalludin (salam dari Sekretaris RT nih, minuman kaleng ambil dirumah bro…)

1314122327879378100

……Salam kenthir, Selamat menuju hari kemenangan yang Fitri…..

13141222431052069553

Ilustrasi uncle google & modifikasi FK


Jumat, 19 Agustus 2011

Dibelit Nafsu, Pak RT HandSex

Bulan Ramadhan tanpa terasa kurang dari separuh lagi akan menuju hari Kemenangan bagi yang saat ini sedang berpuasa. Sebagai manusia biasa dalam kondisi normal baik kepala, isi kepala serta kepalan juga sehat, hari ini saya dan Amalludin eRTe yang sama-sama menjalankan puasa, sama-sama hausnya, sama-sama laparnya dan yang pasti sama-sama nafsunya.

Sekitar satu jam yang lalu ketika mengikuti rapat mengenai pembagian THR bagi para karyawan PT.SerabutanWork, tanpa kami sengaja melihat kelakuan Bapak Elang Winata, ST.MSc dengan penuh kehalusan budi dan kelincahan seorang lelaki kelas belang sedang meraba paha Susan si kasir kas kecil yang duduk tepat disamping Amalludin dan selisih satu kursi denganku, kira-kira gini deh ilustrasi menggoda nafsunya… BATAL :

1313744257856689765

Itulah dilema kebersamaan kami hari ini, karena sama-sama naik nafsu saat sedang berpuasa “maklum sama-sama manusia normal dan punya mata”

Tinggallah kami berdua di meja kerja yang bersebelahan dan mulai berbincang :

Efka : “Te… ente nafsu nggak tadi liat kelakuan si bos ?”

Erte : “ya iyalah… boy gileeee….. paha Susan mulus banget, pengen rasanya jadi tangan si Elang sompret tuh bos porno!!”

Efka : “wakakakaka iya Teee, otong ane sampe standing tadi, dan sekarang pun kalau ingat posisi tangan si Elang walah… malah mau smackdown nih otong Tee, takut batal nih puasa Teee…”

Erte : “Yeeee… dongo lue boy, ane ada cara efektif nih, nafsu terpenuhi puasa tetep jalan dengan baik tanpa kurang sedikitpun pahalanya……… Nah ente perhatikan gambar ini, lalu praktekkan selama 10 Menit “masuk keluar – keluar masuk” dan buktikan khasiatnya, karena ini yang dinamakan HANDSEX hahahhahaha”

13137443252095196149


13137447771332010034

Dr Posma Ngeres saat Perhatikan HandSex

1313744379765727020

Ilustrasi dari uncle google

Kamis, 18 Agustus 2011

Pahlawan Kemerdekaan Juga Kenthir

Tujuh belas Agustus seribu sembilan ratus empat puluh lima, momen terbesar dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia yang kita cintai, bagaikan ejakulasi plus orgasme hasil pergumulan yang berkeringat selama ratusan tahun antara para pejuang bangsa dengan penjajah kala itu.

Balik kejudul artikel ini yang dengan yakin menyatakan secara terang-terangan seterang bulan bahwa Para Pejuang Kemerdekaan Bangsa ini adalah termasuk orang-orang Kenthir!!!

13135222571866821181

Eiittsss… yang kakeknya veteran apalagi sudah gugur membela bangsa ini jangan keburu marah dan tersinggung dulu dong, saat moyangnya disebut Kenthir!!! karena moyang kita pasti sama-sama merasakan pedihnya penjajahan dan perihnya berjuang untuk meraih kemerdekaan.

~o0o~

Disini, hari ini, saat ini kita sama-sama menikmati hasil pergumulan yang berdarah campur keringat plus tetesan air mata selama ratusan tahun. Pertanyaan bagi kita, apakah kita generasi saat ini masih memiliki semangat yang sama dengan mereka? Ehm tak satupun yang otaknya waras dan telah menikmati kenyamanan hidup seperti saat ini, berani berkata dengan TEGAS dan YAKIN “Siap berjuang, untuk menjudikan kenyamanan hidup bahkan nyawa untuk satu kata yaitu kemerdekaaan”

Jika saat ini kita belum berani menjudikan kenyamanan apalagi hidup dan nyawa untuk satu kata “Merdeka” maka hal itu sah-sah saja, karena kita dalam pola pikir yang waras

Nasionalisme atau cinta negara adalah dua kata semu yang hingga hari ini harus kita pertanyakan kedalam diri masing-masing, apa tolok ukurnya? Bagaimana memaknainya? karena dalam keseharian jauh api dari panggang, saat kita bicara nasionalisme disisi lain masih asyik utak-atik anggaran untuk bisa dikorupsi, masih doyan kolusi dan sogok-sogokan bokong, bicara cinta tanah air tapi disisi lain bersahabat dengan perusakan lingkungan, bakar sana bakar sini, bom laut disana dan bom laut disini.

Mari kita jujur, sangat sulit mengukur nasionalisme saat ini, saat negara tidak dalam ancaman secara phisik dari bangsa lain, sangat sulit mengukur nasionalisme ketika kita merasa merdeka sebagai manusia yang “berhak” dan “memiliki” tanah air tanpa ada batas-batas yang menghalangi kita dengan tanggung-jawab yang sepadan sebagai warga negara karena hak asasi kita menjamin hal itu.

13135223481501572289

Balik ke jaman moyang para pejuang kemerdekaan yang tadi saya sebut orang “Kenthir” alias “Sinting”, dalam konteks perjuangan kala itu nasionalisme saja tidak cukup dan memang ketika itu negara ini belum ada bahkan belum merdeka, bagaimana pula kita mengatakan itu nasionalisme!, Nasionalisme pada siapa? Nasionalisme untuk apa? Pertanyaan itu hadir karena dasar kata nasionalisme adalah kata Nation yang berarti bangsa/negara, negara yang mana? Indonesia kala itu belum eksis sebagai sebuah negara, jadi pemahaman saya yang paling tepat mengartikan kegagahan para pahlawan kita dulu adalah “Kekenthiran atau kesintingan yang hadir dari keinginan yang kuat untuk hidup tidak tertindas lagi secara semena-mena oleh perbudakan, penyiksaan dan penghinaan yang dilakukan para penjajah kala itu”

Jika benar nasionalisme-lah penggerak moyang kita sehingga rela mengorbankan materi, jiwa dan raga, maka akan timbul pertanyaan, apakah para penjajah tidak nasionalis? Bahkan menurut hemat saya justru para penjajah kala itu jauh lebih nasionalis, ini dibuktikan dengan misi penjelajahan dan penjajahan pada koloni-koloni baru atas nama negaranya dan perusahaan dagangnya. Lalu kenapa mereka bisa kalah ketika melawan rakyat jelata yang menggunakan bambu runcing sebagai senjata, kenapa nasionalisme penjajah bisa kalah walau diatas kertas jauh lebih unggul?

Jawabnya hanya satu : “Para Penjajah itu keder dan jadi berpikir ulang untuk mempertahankan jajahannya ketika mereka melihat para pejuang kemerdekaan melakukan perlawanan diluar batas-batas kewarasan yang ada dikepala mereka kala itu, karena disepanjang masa penjajahannya mereka menyaksikan masa kemesraan dan pergumulan antara bambu runcing vs moncong senapan telah berlangsung ratusan tahun lamanya”.

13135224851375216558

Hanya orang-orang kenthir, sinting bahkan gila sajalah yang berani melakukan perlawanan dengan senjata tradisional seadanya melawan senapan dan meriam plus serdadu yang terlatih. Bahkan ada pameo di masyarakat yang mengatakan “Yang Waras Ngalah!!”, karena ketika mereka melihat semangat juang untuk merdeka yang begitu kenthir dari para pahlawan bangsa, pada akhirnya membuat penjajah mundur kalang kabut takut melihat semangat masal orang gila yang lagi ngamuk untuk membebasakan dirinya dari penjajahan.

Bukti bahwa semangat Kenthir alias semangat yang tidak memperdulikan logika lagi saat berjuang untuk kemerdekaanlah yang mewujudkan kekuatan para pahlawan bangsa, tanpa mengurangi cita rasa kegilaan, maka dapat digambarkan melalui hal-hal berikut :

#1.Semangat Kenthir dalam mewujudkan impian.

Para pahlawan walau secara sporadis baik tempat maupun waktu, melakukan perlawanan kepada para penjajah ini tidak setahun dua tahun, tapi dilakukan dalam masa ratusan tahun, bayangkan jika bukan karena kegilaan akan mimpi mengecap kemerdekaan, maka dijamin perlawanan yang terjadi tidak akan berkesinambungan hingga ratusan tahun.

Dalam konteks kegilaan, silakan perhatikan orang gila yang selalu terobsesi dengan dunianya sendiri, si gila tak akan bosan-bosannya menggendong bonekanya dengan harapan si boneka berubah menjadi bayi, soal beruahnya hingga jaman Fir’au sunat sekalipun si Gila tidak perduli baginya itulah impiannya.

13135225791721203014

#2.Semangat Kenthir melawan tanpa logika.

Jendral Sudirman seorang Pahlawan Besar yang begitu Kharismatik sehingga walau dalam keadaan yang secara logika tidak pantas untuk berperang, tapi tetap saja angkat senjata untuk berperang? Apakah saat ini ada orang waras yang sedang sakit memilih tetap berjuang angkat senjata demi sesuatu yang masih merupakan impian tanpa kepastian? Walaupun ada, mungkin tak ayal begitu jari ini masih cukup menghitungnya.

Lihat saja orang kenthir gila, tak ada logikanya dia masih saja bisa bertahan hidup walaupun hanya makan dari sisa-sisa di tong sampah, bahkan sebagian lagi orang gila yang bermimpi jadi tentara, tetap saja menggunakan baju perang walaupun hujan panas menerjang, emang gila beneran.

#3.Semangat Kenthir Tak takut mati.

Sebagaimana yang telah digambarkan diatas, bagaimana kewarasan hilang dari diri para Pahlawan bangsa ini, ketika mereka dengan semangat kenthir tanpa rasa takut mati sedikit pun maju pantang mundur terjun ke medan perang, walaupun hanya menggunakan bambu runcing tanpa takut mati menerjang moncong senapan dan meriam yang tak segan mencabut nyawa-nyawa mereka yang beterbangan antara batas kewarasan dan kegilaan hanya demi satu kata “MERDEKA!!!”.

13135226321654250768

Cukup dulu bicara tentang semangat Kenthir yang hadir dalam jiwa para Pahlawan Kemerdekaan, bukan berarti mengecilkan semangat nasionalisme dan bela negara dalam jiwa mereka, tapi hal ini adalah kenyataan yang harus kita terima “Bahwa kadang kala tekad mengejar impian saja tidak cukup untuk sebuah perjuangan, tapi semangat untuk berkorban dan mengorbankan diri dengan ketulusan demi tujuan yang Mulia adalah mutlak diperlukan”

Dan akhirnya mereka Persembahkan Negara dan Bangsa ini bagi kita semua, namun apakah kita generasi Penerus bangsa ini masih memiliki Semangat itu? Hanya tokek kenthir yang dapat menjawabnya.

13135226961965143815

Merdeka Nggak Merdeka, Yang Penting Merdeka!!

1313522740226007883

Ilustrasi dari uncle google