Busyet, sebagai kuli memang bekerja adalah kewajiban dan karya atas jasa yang kita tukarkan dengan lembar-lembar rupiah. Saat-saat mendekati Lebaran, adalah merupakan waktu krusial dimana seseorang yang bekerja mengalami distorsi konsentrasi secara massal, karena walau pun raganya ditempat kerja tapi pikiran dan hatinya telah jauh sampai ke kampung halaman, inilah saat-saat psikologis yang terasa ketika mendekati masa-masa Mudik Lebaran.
Balik kejudul artikel ini “Mudik Penting Nggak Sih?”, sebelum lebih jauh coba renungkan dulu hakikat mudik berikut ini :
Mudik boleh dikatakan adalah perjalanan napak tilas kembali ke masa lalu dari seseorang yang saat ini tidak berdomisili lagi di Kampung halaman atau tanah kelahirannya. Istilah mudik identik dengan hari raya idul fitri, bahkan sebagian lagi menganggap mudik adalah ritual tahunan, ketika sang anak datang menjenguk ayah dan bunda yang terkasih, saling merangkul dan mencium lembut tangan beliau sebagai tanda kerinduan sang anak juga tanda kasih sayang orang tua yang senantiasa bahagia tiada tara ketika berlinang air mata bahagia menyaksikan buah hatinya pulang kepangkuan, singkatnya silakan kunjungi lapak sejuk mbak Arimbi : Mudik, Perjalanan Spiritual Kembali ke Akar
Setelah itu coba perhatikan beberapa kondisi berikut ini :
#1.Tejo, mengajukan permohonan cutinya seperti setiap tahun yang dilakukannya. HF bertanya : “Jo, kapan kamu ambil kredit motor biar cepet dan nggak ribet kalo ngantor ?”. HF menanyakan hal itu karena si Tejo nggak juga ambil kreditan motor karena alasannya nggak ada uang muka…. nah lho?
#2.Amalludin, mengajukan permohonan cuti untuk lebaran tahun ini alasannya mudik. HF bertanya : “Bro, kapan ente ambil KPR BTN….. cepetan yah, ntar ta bantu cariin subsidi?”. HF menanyakan hal itu karena bertahun-tahun kerja si Amal masih saja betah pindah kontrakan, nah lho?
#3.Kolis, mengajukan permohonan cuti lebaran untuk mudik juga. HF bertanya : “Lis, kapan ente lamar si Susan, ntar kelamaan tuh anak bakal diembat tetangga bro?”. HF menanyakan hal itu karena pacaran udah 7 tahun, alasannya belum siap nggak ada uang, nah lho?
#4.Andee, mengajukan permohonan cuti lebaran, karena udah 5 tahun nggak pulang kampung, sekalian minta blangko pinjaman uang untuk sewa/carter mobil mewah sebagai akomodasi bawa ke kampung (sekaligus untuk pamer waaaaaaaa). HF Cuma bisa geleng-geleng kepala atas dan bawah.
#5.Elang, mengajukan permohonan cuti mudik ke kampung karena sudah setahun ini nggak pulang kampung. HF bertanya : “emang kampung ente sudah pindah ya bro?”. HF menanyakan hal itu karena kampung halaman si Elang cuma perjalanan 4 Jam doang dari domisilinya sekarang, dan HF cuma bisa ngelus-ngelus paha sambil membayangkan di elus si Susi sekretaris big boss.
Karena mereka semua sahabat yang baik, tanpa menunggu ijin dari kepala bagian masing-masing HF langsung approved semua permohonan cuti diatas, namun ada beberapa hal yang pada akhirnya membuat FK, berasumsi tentang Pentingkah Mudik? Apa untungnya dan apa ruginya jika melihat contoh-contoh diatas serta hal apa yang mesti dicermati.
Bagi FK melihat alasan rekan-rekan HF diatas, serta latar belakangnya tentu saja perspektif mudik menjadi tidak penting, bahkan FK mengibaratkan mudik sama saja dengan Candu.
Tentu kita sangat familiar dengan kata Candu, sebagai perokok candu adalah ketika keinginan merasakan sensasi semu bersama hembusan asap, bagi para pengguna narkotik candu jauh lebih hebat sensasinya, bagi para petualang seksual candu ketika hasrat seks telah tersalurkan, singkatnya kata “candu” kerap kali lebih berkesan negatif daripada positif, karena pengulangan-pengulangan sensasi yang dirasakan lebih mengarah kepada Pemuasan.
Nah lho, kenapa kata candu yang digunakan pada suatu kegiatan temporer yang bersifat positif seperti mudik? Ini nih asumsinya :
~ Faktanya Superman juga BMI lho ~
#1.Kasus si Tejo dan Amalludin adalah contoh paling ringan ketika budaya mudik ini tanpa disadari “seakan-akan” menjadi suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh mereka, walaupun pada kenyataannya di tempat perantauan kehidupan mereka belumlah settle banget, dan semestinya dana mudik yang telah dikumpulkan selama setahun lamanya tersebut lebih baik jika dialokasikan untuk menunjang kebutuhan-kebutuhan yang lebih fundamental diperantauan agar jauh lebih baik, mandiri dan berdikari serta bernilai investasi, daripada memaksakan mudik setiap tahun, tapi kehidupan sebenarnya di perantauan jauh dari yang diharapkan.
Lalu bagaimana dengan yang menjadi TKI dan TKW diluar negeri, tentunya mereka tidak berpikir untuk investasi terlalu dalam diperantauan karena memang sebagai buruh migran banyak keterbatasan tentunya untuk memiliki harta tetap. Lalu apakah dengan demikian para BMI sebaiknya mudik setiap tahun? Ah, alangkah eloknya mudik tidak dilakukan setiap tahun oleh para BMI, karena biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan mudik ke tanah air tidaklah sedikit, bahkan ada yang sampai puluhan juta. Seandainya sahabat BMI re-planning mudiknya satu kali untuk beberapa tahun, bayangkan berapa banyak uang yang bisa dikirimkan kekampung halaman, 50% saja dari angka 40 juta rasanya akan membuat keluarga dikampung semakin semarak dalam menjalani lebarannya dan bayangkan penghematan 50% lagi untuk ditabungkan kedalam rekening mereka sebagai saving investasi baginya kelak.
#2.Kasus Andee dan Maskolis, adalah contoh pilihan bagian mana yang harus dipamerkan ketika kita mudik. Adalah hal yang biasa pada saat ini masyarakat kita mengukur keberhasilan serta kesuksesan seseorang dengan ukuran-ukuran materi. Pengakukan terhadap keberhasilan materi inilah yang menyebabkan si Andee bersikeras menyewa mobil mewah walaupun harus mengajukan hutang dikantornya, agar ketika mudik secara kejiwaan Andee merasa dihargai oleh orang tua dan kampung halamannya dan hal ini lumrah kita temui disaat-saat mudik lebaran yang kerap kali menjadi ajang pamer dadakan dengan Pameo “biar tekor asal kesohor”.
Lain kasus dengan Maskolis, semestinya dia menunda mudiknya dan segera mengumpulkan uang untuk melamar si Susan. Nah ketika dia telah menikahi si Susan di Perantauan, lalu mengajak Susan pulang kekampung-halaman pada kesempatan mudik pertama mereka, sesungguhnya hal ini adalah sesuatu yang pantas dipamerkan karena Maskolis telah memberikan sinyal pada kampung halamannya bahwa setidaknya dia Sukses Laku dan Sukses memasuki tahap awal kemandirian.
#3.Kasus Elang, adalah contoh salah kaprah budaya mudik, karena kadang kala budaya ini membuat kita menunda / melupakan proses silahturahmi pada keluarga sepanjang tahun berjalan, padahal jarak antara kota tempat perantauan dengan kampung halaman yang hanya 4 jam perjalanan darat, mestinya si Elang sepanjang tahun dapat bersilaturahmi lebih dari satu kali ke orang tuanya, tanpa harus menunggu mudik lebaran.
Namun demikian, asumsi diatas hanyalah asumsi-asumsi, karena pada akhirnya Penting atau tidaknya mudik, akan berakhir pada kata Candu serta Sensasi yang dirasakannya, sebab kadangkala kepuasan bathin tidak dapat untuk diukur dengan materi, sama hal-nya ketika seorang Perokok ditanyakan apa gunanya merokok? Buang-buang uang dan dapat merugikan kesehatan, begitupun dengan Mudik walaupun buang-buang uang dan sumberdaya lainnya bahkan waktu, tenaga, pikiran juga resiko diperjalanan…………. Budaya ini tetap saja dijalankan dengan penuh suka cita.
Bagi yang mudik, selamat mudik saudaraku dan hati-hati di jalan semoga selamat sampai ditujuan dan berbahagia bersama keluarga.
Sedangkan bagi yang tidak mudik semoga dilebaran-lebaran mendatang dapat merangkul orang tua dan keluarga terkasih, namun jangan berkecil hati dan tetaplah semangat, karena walaupun tidak mudik, hal tersebut tidak mengecilkan makna hakiki silahturahmi lebaran yang fitri. Dan yakinlah walaupun hanya berkomunikasi via video call 3G atau hand phone butut sekalipun pada orang tua dan sanak famili, tetap saja makna kebahagiaan itu tetap terasa, ketika mereka tahu bahwa kita baik-baik saja diperantauan.
Akhirnya : jangan lupa silahturahmi ke tetangga, kadangkala hal penting ini terlupakan, padahal sejatinya tetangga adalah keluarga terdekat kita…. Apalagi ke Pak Ketua eRTe seperti Amalludin (salam dari Sekretaris RT nih, minuman kaleng ambil dirumah bro…)
……Salam kenthir, Selamat menuju hari kemenangan yang Fitri…..
Ilustrasi uncle google & modifikasi FK