Minggu, 07 November 2010

Kau Bukan Ibuku!! (Renungan)

Entah karena cuaca yang kurang bersahabat, langit gelap hujan tak berhenti. Ehm, suasana yang membuat hati menjadi melankolis dan sedikit sendu.

Sungguh sendu plus ditambah postingan bbm dari sahabatku di dunia nyata yang bercerita tentang kejamnya hati seorang wanita, well tak ada salahnya jika kuberbagi pada kalian sehingga menambah sendu hati kita di weekend yang mendung ini :

Alkisah, di Singapura menurut temanku ini ada seorang wanita sedang mengalami kegundahan dan penyesalan tiada henti karena kebodohan dan keangkuhannya terhadap Ibunya…. Begini ceritanya :

“Ibuku hanya punya satu buah mata yang berfungsi diwajah tuanya, aku membencinya… karena itu memalukan bagiku” ujarnya.

“Ibuku bekerja sebagai tukang masak di Junior High School tempatku bersekolah untuk membiayai hidup kami, pada suatu hari ibuku datang kedalam kelasku dan beliau menyapaku”

Aku sangat-sangat malu pada teman-temanku sehingga aku mengacuhkannya dan berlari pergi.

Keesokan harinya, teman-teman mengejek diriku dan kekurangan ibuku, ingin rasanya aku menghilang dan raib saja dari dunia ini.

Saat pulang kerumah karena perasaan malu yang tak tanggung kutahan, tanpa sadar ku berteriak pada Ibuku “Ibu, jika kau hanya ingin membuatku menjadi bahan tertawaan, kenapa kau tak mati saja!!!” ku sungguh marah saat itu.

Dan saat itu kubertekad untuk keluar dari rumahku dan tidak berhubungan dengannya sama sekali. Akupun belajar dengan semangat plus diparuh waktu bekerja part time, hingga akhirnya aku mendapat beasiswa belajar disalah satu Perguruan tinggi ternama di Singapura. Lalu ku menikah, punya 2 orang anak dan sungguh kehidupan yang bahagia dengan suamiku.

Sampai suatu hari Ibuku, datang untuk menjenguk ke apartement kami. Saat di depan pintu, anak-anakku yang melihatnya menjadi ketakutan. Saat itu juga ku berteriak Beraninya kau datang kerumahku, pergi dari sini, kau hanya menakuti anak-anakku!!” ujarku dengan marah.

Ibuku terkejut dan hanya berucap “maafkan saya, mungkin saya salah alamat ujarnya pelan dan getir.

Ehmm… setahun kemudian setelah kejadian hari itu, ku menghadiri sebuah acara reuni Junior High School-ku dulu, sempatku melihat rumah dimana aku tinggal saat itu. Dalam obrolanku dengan tetangga rumah itu, dia berkata bahwa Ibuku sudah meninggal, aku tidak meneteskan setitikpun air mata. Tetangga tersebut hanya menyerahkan sebuah surat titipan dari Ibuku, dan pesannya aku harus membaca surat itu. Lalu dengan rasa kecut kubuka dan kubaca isinya :

“Anakku tercinta, aku memikirkanmu setiap saat, maafkan aku saat datang ke rumahmu dan sehingga menakuti anak-anakmu dan maafkan juga ketika dulu aku telah membuatmu malu didepan teman-temanmu, semoga engkau mengerti anakku. Mungkin perlu kusampaikan padamu anakku, waktu dirimu kecil engkau kehilangan satu matamu anakku, sebagai Ibu tak akan kubiarkan dirimu tumbuh hanya dengan sebuah mata, jadi kuberikan mataku untukmu. Aku bahagia karena anakku akan memperlihatkan seluruh dunia untukku dengan mata itu… hanya untukmu anakku”.

Maka tak dapat menahan tangis, wanita itu menangis dalam sesal yang tak mungkin dapat disesali lagi, karena semua telah terlambat.

Sungguh kasih Ibu sepanjang masa, kasih anak hanya sepanjang ingat.

Well, sayangi ibumu, orang tuamu, saudaramu, sahabatmu, dan manusia lain yang engkau pedulikan dan memperdulikanmu apapun kondisinya, terima apa adanya janganlah karena phisik seseorang mengecilkan arti kasih sayang sejati yang telah dititipkan dihatimu oleh-Nya.

Well, sekian dulu untuk kesenduan disiang ini, diantara langit mendung dan cuaca dingin ini.

Gambar dari uncle google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar