Terinspirasi oleh tulisan yang saya baca tadi pagi, dari seorang sahabat Kompasianer “Neng Hanah” namanya, seorang wanita yang berjuang bagi kaumnya nih link-nya.
http://sosbud.kompasiana.com/2010/11/06/biang-keladi-trafiking-di-jawa-barat/
So.. what!! Apa hubungannya dengan judul posting saya diatas, well nyaris nggak ada kelihatannya , tapi ntar dulu pasti ada hubungannya. Dan saya hari ini menyatakan sebagai seorang yang telah dari dulu membenci human trafiking yang saya anggap sebagai tindakan seekor burung bangkai, terkhusus kalau yang jadi korban gadis-gadis muda yang tidak berdosa dan harusnya menikmati keremajaan mereka. Hanya satu kata “Damn’s you Bastard, Don’t you Touch our Girls” karena saya mencintai keindahan Tuhan yang satu ini dalam arti sejatinya.
Well, gini nih ceritanya …. Saya emang suka sekali untuk dipijat, dan kebiasaan ini biasanya saya lakukan dulu hampir setiap bulan (kalo sekarang nggak lagi deh… agak males, karena jarang dapat tugas ke lokasi lagi belakangan ini). Nah biasanya kalo saya Pijatnya di Tempat Sinshe yang memang menyediakan para Tukang Pijat yang emang udah expert soal pijat-memijat karena sudah dilatih ama tuh Shinse. Yang mijat ya Wanita juga Bro… tapi mereka sudah tidak muda lagi, paling muda sekitar 27 Tahunan paling tua umur 50 tahunan plus juga ada (dan konfirmasi sorry Bro, ane anak alim jadi nggak macam-macam kalo di tempat pijat tua muda nggak masalah yang penting badan enak kepala ringan Bro…. entah kalo ente wakakakakakakak).
Kita balik lagi ke topik I hate human trafiking-nya Neng Hannah. Suatu ketika saya diajak oleh seorang teman yang kebetulan ada free voucher massage berlebih, disebuah hotel yang menyediakan all in one services termasuk pijat, sauna dan lainnya. Yups, tentu saya tidak menolak hitung-hitung free alias gratis Bro… kalo ente nolak mah itu namanya somsee & jaim.
Singkat cerita, kami berempat berangkat menuju hotel yang dituju. Nah sampai di Hotel, kami langsung diberi baju mirip kimono tanpa bawahan plus sandal ganti, lanjut masuk keruangan masing-masing. Ruangan tersebut nggak terlalu luas dihiasi lampu temaram yang bikin ngantuk plus pasti ada setannya.
Sreet… pintu dibuka , walah-walah seorang anak gadis paling seumuran 16-17 an tahun gitu. Perasaan saya udah nggak enak “nih anak pasti nggak bisa mijit nih, asli … walah gawat nih”.
“Telentang mas, tadi mintanya pijat yang little hard-kan” ujarnya.
Tanpa banyak omong daku telentang seperti yang disuruhnya. Ehm… ternyata pijatan gaya Thailand menggunakan kaki-kakinya lumayan enak, setelah itu dia memijat bagian kaki dengan tangannya, lanjut keseluruh tubuh, hingga ke bagian kepala. Diantara selang waktu memijat inilah, sebagai orang yang nggak bisa berdiam diri terjadi percakapan antara kami.
Diriku : “ehm.. de, sudah lama kerja disini?” tanyaku
Dia : “nggak mas baru kok, baru jalan sebulan ini mas” ujarnya
Diriku : “ehm.. tapi kayaknya kamu udah pinter mijat ya?” tanyaku lagi.
Dia : “Iya mas, sebenarnya saya hasil rolling dari Bandung Mas, tadinya disana” jawabnya
Diriku : “ehm… nama kamu siapa? Umur kamu berapa ya?” tanyaku lagi.
Dia : “Nama saya Ema, mas … umur saya 18, mas” jawabnya.
Diriku : “Lho, emang kamu nggak sekolah?” tanyaku.
Dia : “Iya mas, saya Cuma tamat smp, dikampung susah Mas, lalu diajak teman kerja di kota”
Diriku : “eh, orang tua kamu gimana? Kok bisa kamu kemari gimana ceritanya?” tanyaku lagi
Dia : “mo, gimana lagi mas … dikampung susah, orang tua ya bolehin aja, kalo kesini sih udah diatur ama teman mas, rolling juga dari cabang yang di Bandung mas?” jawabnya
Diriku : “Lho… jadi udah lama dong kamu kerja ginian ?”
Dia : “Iya, mas udah hampir 2 tahun lebih deh kayaknya” jawabnya
Diriku : “kamu nggak coba cari kerja yang lainnya? dan tiap tahun pulang kampung kan?”
Dia : “nggak bisa mas, lagian cari kerja lain mah susah mas, iya tiap lebaran saya pulang kampung ke *suatu nama daerah di Jabar* “ jawabnya.
Diriku : “ehm… orang tua kamu nggak marah kalau tahu kamu kerja ginian?”
Dia : “eh.. orang tua sih nggak tau mas, mereka cuma tahu kalo saya kerja di sini kerja di Pabrik mas, karena dulu teman yang ngajak saya juga pamitnya tuk kerja di pabrik mas” ujarnya.
Diriku : “ehehmmm, gitu… lalu kenapa kamu nggak coba aja keluar dari pekerjaan ini dan coba kerja di pabrik, nah disinikan banyak pabrik tuh” ujarku.
Dia : “gak bisa mas, kami harus bayar biaya-biaya yang udah dibebankan ke kami mas kalau mau keluar dari sini” ujarnya.
Diriku : “maksudnya, biaya apa? Untuk apa dan berapa nilainya?” tanyaku lagi dengan penasaran.
Dia : “ya, biaya transport kami dari kampung, biaya hidup kami disini, tapi yah dicicil sih setiap harinya mas, tergantung banyaknya tamu… kalo sekarang saya mo keluar paling dikit harus bayar luas sekitar 10 jutaan deh mas, gimana mo cari uang segitu mas” ujarnya lagi.
Diriku : “nah, berarti kalian sengaja diperas kalo gitu, sialan juga ya yang usaha ini” ujarku.
Dia : “yah, gimana lagi mas…. Namanya juga butuh duit mas, bisa bantu orang tua untuk adik-adik yang masih kecil mas” sambil tersenyum dia berujar.
Diriku : “kasihan juga ya, kalian” ujarku.
Dia : “mas yang satu itu mau dipijit juga nggak sekalian biar tambah enteng” ujarnya datar.
Diriku : “walah… jangan kalo yang itu biar dipijat sendiri aja… jangan makasih” ujarku terkejut (enak aja, cape-cape jaga keperjakaan masa mo dilepasin ditempat ginian…hehehehehe).
Setelah memakai kimono kembali, sambil mengucap terima kasih, karena kasihan saya berikan uang tips yang lumayan padanya, semoga bermanfaat untuk keluarganya dikampung, dan dia berterima kasih atas hal itu.
Hingga hari ini, saya udah nggak mau lagi pergi ke panti pijat plus seperti itu baik di Hotel, di Ruko atau di Club yang banyak dan tumbuh menjamur di kota kami ini, mending kalo mo mijat balik ke tempat Shinse tadi, walaupun yang mijat tua-tua tapi mereka bener-bener mijat.
Begitulah yang terjadi pada gadis-gadis remaja yang memilukan ini, semestinya mereka masih bisa tertawa bersama teman-teman sekolahnya menikmati masa mudanya, berpacaran dan pergi nonton bioskop seperti dulu yang sering kulakukan. Kasihan mereka, berada dalam Penjajahan dalam arti yang sesungguhnya. Diperas, Dirantai, kadang sebagian dari mereka malah sering kali mendapatkan pelecehan sexual dan beban perasaan yang berat untuk dilawan… momok paling utama yang menjadi penyebab adalah faktor ekonomi dan pendidikan, serta pola pikir yang lebih menitik beratkan pada kenikmatan ekonomi. Sudah saatnya setiap orang tua di pelosok negeri ini tidak merelakan anaknya yang pergi jauh ke daerah lain tanpa kejelasan yang pasti dan tanpa kontrol hanya karena alasan sang anak mampu membantu ekonomi keluarga. Berbakti itu bagus tapi sesuatu yang baik pun ada cara yang baik pula.
Well, Bro & Sis… cukup dulu renungan tentang Human Trafiking jenis ini, malah sebagian dari mereka akhirnya terjebak sebagai pekerja sex komersial. Dan kasus-kasus ini banyak terjadi di Negara yang kita cintai ini.
Semoga Saudari Kita Neng Hanah dan koleganya dapat meminimalkan serta dapat mengantisipasi kejadian-kejadian seperti ini, sehingga akan banyak yang tertolong.
Selamat Berjuang Neng Hanah. Kalo saya mah berjuangnya, dengan tidak akan pergi ke tempat seperti itu lagi, sehingga mereka kehilangan pelanggan yang baik seperti saya, sehingga akhirnya bangkrut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar