Timbul renungan yang teramat perih setelah menjelajahi relung ketahanan jiwa yang paling dalam. Saat melihat seorang kawan harus menderita penyakit yang mematikan … HIV/AIDS, waktu dihitung detik demi detik…… berat.
Tapi apa yang kutemukan padanya , tidak dia tidak melemah, dia tidak menyerah dan dia tidak mengeluh salutku untuknya. Walau ketika pertama kali dia tahu bahwa dia mengidap penyakit ini, dia shock, stress, geram, putus asa bahkan menyalahkan Tuhan. Sungguh waktu juga akhirnya yang mampu memperbaiki keadaannya. Sang waktu membuka tabir bagi kelemahan dirinya dan sang waktu pula memberi kesempatan baginya untuk menikmati sisa-sisa hidupnya saat ini, walau waktu juga tak rela untuk ditawar memberi tenggat bagi batas umurnya.
Kesadarannya muncul bahwa dengan waktu yang sedikit yang tersisa bagai terseret oleh kaki-kaki lemasnya yang mulai mengeriput, mengecil dan kurus, dia harus bisa lebih mensyukuri apa yang telah lalu serta telah dinikmatinya serta lebih dalam menundukan kepala mohon ampun pada-Nya atas setiap kesalahan yang telah dilakukannya. Kawan engkau memang menderita tapi engkau dipilih Tuhan karena engkau pantas dan kuat untuk di uji-Nya. Bukankah seluruh kejadian dan apapun yang dialami oleh manusia dimuka Bumi ini telah digariskan serta atas persetujuan-Nya…. Itu pasti dan yakinlah bahwa Tuhan hanya memberikan ujian sesuai dengan kemampuan hamba-Nya dalam menerima ujian dari-Nya.
Kawan… aku malu melihat kau yang tabah siap menunggu waktu dan menunggu saat itu tiba, bagai menghitung menit demi menit dan detik demi detik bersujud ikhlas pada-Nya.
Berpikir dalam renungku, apa yang terjadi pada diriku jikalah aku yang diberikan Penyakit ganas itu. Apakah aku sanggup menjalani semuanya hanya satu jawabnya “MINTA AMPUN TUHAN”
Benar kawan… sepertinya dengan mengukur diriku saat ini kayaknya aku harus jujur, bahwa aku sungguh pasti tidak akan mampu menerima hal itu jika terjadi dan dipastikan tidak akan sanggup menghadapinya dengan ke-ikhalasan sebagaimana yang diharapkan-Nya.
Nah…. kesimpulan yang dapat kuambil adalah sebaiknya tulisan ini kuakhiri saja karena membayangkan hal itu terjadi padaku pun, aku sudah nggak kuat apalagi kalau hal itu benar-benar terjadi padaku.
Mulai saat ini marilah aku dan kamu sahabat yang masih dalam keadaan sehat tak kurang suatu apapun walaupun engkau nggak ganteng, nggak kaya, nggak pintar, doyan makan dan jarang mandi *Profile Joko Erdhianto*.
Walaupun sejelek si Joko kita harus lebih mensyukuri apa yang ada pada kita, apapun kekurangan kita. Dan tak selalu hanya memikirkan apa yang tidak ada dan tidak kita punyai. Kesadaran akan rasa syukur dalam sehat dan keadaan baik saat ini, itulah yang lebih utama daripada apapun juga
dan nikmati rasa itu dengan rasa syukur dan bahagia.
Tulisan ini ku dedikasikan sebagai renungan agar lebih menikmati saat yang ada sekarang dan selalu mengingat rasa syukur atas seluruh karunia yang telah diberikan-Nya padaku, semoga Kawan yang sedang mendapat cobaan dapat tabah………Konon waktu adalah obat yang paling mujarab baik saat dia bergerak maupun saat sang waktu telah berhenti berdetak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar