Tujuh belas Agustus seribu sembilan ratus empat puluh lima, momen terbesar dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia yang kita cintai, bagaikan ejakulasi plus orgasme hasil pergumulan yang berkeringat selama ratusan tahun antara para pejuang bangsa dengan penjajah kala itu.
Balik kejudul artikel ini yang dengan yakin menyatakan secara terang-terangan seterang bulan bahwa Para Pejuang Kemerdekaan Bangsa ini adalah termasuk orang-orang Kenthir!!!
Eiittsss… yang kakeknya veteran apalagi sudah gugur membela bangsa ini jangan keburu marah dan tersinggung dulu dong, saat moyangnya disebut Kenthir!!! karena moyang kita pasti sama-sama merasakan pedihnya penjajahan dan perihnya berjuang untuk meraih kemerdekaan.
~o0o~
Disini, hari ini, saat ini kita sama-sama menikmati hasil pergumulan yang berdarah campur keringat plus tetesan air mata selama ratusan tahun. Pertanyaan bagi kita, apakah kita generasi saat ini masih memiliki semangat yang sama dengan mereka? Ehm tak satupun yang otaknya waras dan telah menikmati kenyamanan hidup seperti saat ini, berani berkata dengan TEGAS dan YAKIN “Siap berjuang, untuk menjudikan kenyamanan hidup bahkan nyawa untuk satu kata yaitu kemerdekaaan”
Jika saat ini kita belum berani menjudikan kenyamanan apalagi hidup dan nyawa untuk satu kata “Merdeka” maka hal itu sah-sah saja, karena kita dalam pola pikir yang waras
Nasionalisme atau cinta negara adalah dua kata semu yang hingga hari ini harus kita pertanyakan kedalam diri masing-masing, apa tolok ukurnya? Bagaimana memaknainya? karena dalam keseharian jauh api dari panggang, saat kita bicara nasionalisme disisi lain masih asyik utak-atik anggaran untuk bisa dikorupsi, masih doyan kolusi dan sogok-sogokan bokong, bicara cinta tanah air tapi disisi lain bersahabat dengan perusakan lingkungan, bakar sana bakar sini, bom laut disana dan bom laut disini.
Mari kita jujur, sangat sulit mengukur nasionalisme saat ini, saat negara tidak dalam ancaman secara phisik dari bangsa lain, sangat sulit mengukur nasionalisme ketika kita merasa merdeka sebagai manusia yang “berhak” dan “memiliki” tanah air tanpa ada batas-batas yang menghalangi kita dengan tanggung-jawab yang sepadan sebagai warga negara karena hak asasi kita menjamin hal itu.
Balik ke jaman moyang para pejuang kemerdekaan yang tadi saya sebut orang “Kenthir” alias “Sinting”, dalam konteks perjuangan kala itu nasionalisme saja tidak cukup dan memang ketika itu negara ini belum ada bahkan belum merdeka, bagaimana pula kita mengatakan itu nasionalisme!, Nasionalisme pada siapa? Nasionalisme untuk apa? Pertanyaan itu hadir karena dasar kata nasionalisme adalah kata Nation yang berarti bangsa/negara, negara yang mana? Indonesia kala itu belum eksis sebagai sebuah negara, jadi pemahaman saya yang paling tepat mengartikan kegagahan para pahlawan kita dulu adalah “Kekenthiran atau kesintingan yang hadir dari keinginan yang kuat untuk hidup tidak tertindas lagi secara semena-mena oleh perbudakan, penyiksaan dan penghinaan yang dilakukan para penjajah kala itu”
Jika benar nasionalisme-lah penggerak moyang kita sehingga rela mengorbankan materi, jiwa dan raga, maka akan timbul pertanyaan, apakah para penjajah tidak nasionalis? Bahkan menurut hemat saya justru para penjajah kala itu jauh lebih nasionalis, ini dibuktikan dengan misi penjelajahan dan penjajahan pada koloni-koloni baru atas nama negaranya dan perusahaan dagangnya. Lalu kenapa mereka bisa kalah ketika melawan rakyat jelata yang menggunakan bambu runcing sebagai senjata, kenapa nasionalisme penjajah bisa kalah walau diatas kertas jauh lebih unggul?
Jawabnya hanya satu : “Para Penjajah itu keder dan jadi berpikir ulang untuk mempertahankan jajahannya ketika mereka melihat para pejuang kemerdekaan melakukan perlawanan diluar batas-batas kewarasan yang ada dikepala mereka kala itu, karena disepanjang masa penjajahannya mereka menyaksikan masa kemesraan dan pergumulan antara bambu runcing vs moncong senapan telah berlangsung ratusan tahun lamanya”.
Hanya orang-orang kenthir, sinting bahkan gila sajalah yang berani melakukan perlawanan dengan senjata tradisional seadanya melawan senapan dan meriam plus serdadu yang terlatih. Bahkan ada pameo di masyarakat yang mengatakan “Yang Waras Ngalah!!”, karena ketika mereka melihat semangat juang untuk merdeka yang begitu kenthir dari para pahlawan bangsa, pada akhirnya membuat penjajah mundur kalang kabut takut melihat semangat masal orang gila yang lagi ngamuk untuk membebasakan dirinya dari penjajahan.
Bukti bahwa semangat Kenthir alias semangat yang tidak memperdulikan logika lagi saat berjuang untuk kemerdekaanlah yang mewujudkan kekuatan para pahlawan bangsa, tanpa mengurangi cita rasa kegilaan, maka dapat digambarkan melalui hal-hal berikut :
#1.Semangat Kenthir dalam mewujudkan impian.
Para pahlawan walau secara sporadis baik tempat maupun waktu, melakukan perlawanan kepada para penjajah ini tidak setahun dua tahun, tapi dilakukan dalam masa ratusan tahun, bayangkan jika bukan karena kegilaan akan mimpi mengecap kemerdekaan, maka dijamin perlawanan yang terjadi tidak akan berkesinambungan hingga ratusan tahun.
Dalam konteks kegilaan, silakan perhatikan orang gila yang selalu terobsesi dengan dunianya sendiri, si gila tak akan bosan-bosannya menggendong bonekanya dengan harapan si boneka berubah menjadi bayi, soal beruahnya hingga jaman Fir’au sunat sekalipun si Gila tidak perduli baginya itulah impiannya.
#2.Semangat Kenthir melawan tanpa logika.
Jendral Sudirman seorang Pahlawan Besar yang begitu Kharismatik sehingga walau dalam keadaan yang secara logika tidak pantas untuk berperang, tapi tetap saja angkat senjata untuk berperang? Apakah saat ini ada orang waras yang sedang sakit memilih tetap berjuang angkat senjata demi sesuatu yang masih merupakan impian tanpa kepastian? Walaupun ada, mungkin tak ayal begitu jari ini masih cukup menghitungnya.
Lihat saja orang kenthir gila, tak ada logikanya dia masih saja bisa bertahan hidup walaupun hanya makan dari sisa-sisa di tong sampah, bahkan sebagian lagi orang gila yang bermimpi jadi tentara, tetap saja menggunakan baju perang walaupun hujan panas menerjang, emang gila beneran.
#3.Semangat Kenthir Tak takut mati.
Sebagaimana yang telah digambarkan diatas, bagaimana kewarasan hilang dari diri para Pahlawan bangsa ini, ketika mereka dengan semangat kenthir tanpa rasa takut mati sedikit pun maju pantang mundur terjun ke medan perang, walaupun hanya menggunakan bambu runcing tanpa takut mati menerjang moncong senapan dan meriam yang tak segan mencabut nyawa-nyawa mereka yang beterbangan antara batas kewarasan dan kegilaan hanya demi satu kata “MERDEKA!!!”.
Cukup dulu bicara tentang semangat Kenthir yang hadir dalam jiwa para Pahlawan Kemerdekaan, bukan berarti mengecilkan semangat nasionalisme dan bela negara dalam jiwa mereka, tapi hal ini adalah kenyataan yang harus kita terima “Bahwa kadang kala tekad mengejar impian saja tidak cukup untuk sebuah perjuangan, tapi semangat untuk berkorban dan mengorbankan diri dengan ketulusan demi tujuan yang Mulia adalah mutlak diperlukan”
Dan akhirnya mereka Persembahkan Negara dan Bangsa ini bagi kita semua, namun apakah kita generasi Penerus bangsa ini masih memiliki Semangat itu? Hanya tokek kenthir yang dapat menjawabnya.
Merdeka Nggak Merdeka, Yang Penting Merdeka!!
Ilustrasi dari uncle google
Tidak ada komentar:
Posting Komentar